Article

Published on May 12th, 2015 | by versha yunita

0

Alasan Mengapa Pegawai Bank Gelapkan Dana Nasabah

Jakarta -Kasus penggelapan dana nasabah di bank masih terjadi. Banyak alasan yang mendasari pegawai atau pemilik bank akhirnya mencuri dana nasabahnya.

Menurut Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Agus Setya, salah satu alasan oknum pegawai bank menggelapkan dana nasabah adalah mengejar target pekerjaan.

“Biasanya banyak terjadi kongkalikong antar pegawai. Menjadi kepala cabang kan ada target kerja, bagaimana mencapai target itu, dan harusnya dilakukan dengan cara yang benar,” kata Agus kepada detikFinance, Senin (11/5/2015).

Ia memberi contoh, misalnya kepala cabang ditarget harus menghimpun dana masyarakat Rp 10-15 miliar dalam periode waktu tertentu. Berbagai cara dilakukan supaya bisa menutupi target tersebut.

“Kalau kerja di bank kan ada target, sebulan harus dapat Rp 10-15 miliar misalnya, nah itu kan nggak gampang, bagaimana caranya mencapai target itu?” Katanya.

“Pilihannya shortcut, dengan cara cepat. Memberi pinjaman ke orang dalam jumlah besar padahal orang itu tidak ada kemampuan untuk meminjam sebesar itu. Kemudian hasil pinjaman, dia tabungkan, sehingga ada uang masuk ke bank, untuk mencapai targetnya itu. Itu sudah biasa dilakukan,” jelasnya.

Uang yang disetorkan nasabah sebagai pembayaran kredit itu malah digelapkan dan digunakan sebagai tabungan atas nama orang lain. Sehingga si debitur dianggap belum membayar cicilan.

Selain target, kata Agus, biasanya oknum pegawai bank juga punya gaya hidup yang berlebihan dan mewah, sehingga butuh tambahan uang untuk mencukupinya.

“Ada juga karena hobi judi, dan lain-lain,” ujarnya.

Seperti diketahui, hingga Maret 2015 Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah memberikan kuasa kepada Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melaporkan tindak pidana perbankan atas 27 bank yang telah dicabut izin usahanya.‎

Direktur Eksekutif Hukum LPS Robertus Bilitea mengatakan, ‎dari angka tersebut, 8 bank di antaranya telah selesai proses hukumnya, sedangkan 19 bank masih dalam proses hukum.

Robertus merinci, dari jumlah tersebut, 5 BPR/BPRS dalam proses investigasi oleh BI, 12 bank yang terdiri dari 1 bank umum dan 11 BPR/BPRS dalam proses penyidikan, dan 1 BPR dalam proses pengadilan dan sudah diputus pada tingkat pertama.

 

Sumber : detikfinance

Tags: , , , , , , ,


About the Author



Comments are closed.

Back to Top ↑