Article

Published on March 31st, 2015 | by riandi

0

PRINSIP MANAJEMEN RISIKO

Manajemen risiko perbankan dapat dibagi dalam dua aktivitas pokok, pertama, pengelolaan risiko (managing risk) dan kedua, menyediakan modal untuk menutup risiko residual setelah upaya pengelolaan risiko dilakukan.

  1. Mengelola Risiko

Untuk mengelola risiko, diperlukan berbagai kebijakan, prosedur dan infrastruktur yang cukup, agar risiko residual setelah upaya dilakukan dapat dikendalikan pada level yang sesuai dengan toleransi risiko. Pengelolaan risko harus dilakukan untuk mengelola risiko kredit, risko pasar, dan risiko operasional.

Pengelolaan risiko kredit dapat di bagi kedalam:

  • Garda depan (front end) bertugas menjalankan fungsi bisnis, yaitu menyalurkan kredit. Proses menyalurkan kredit didukung oleh seperangkat kebijakan dan prosedur, pengaturan sistem kewenangan membuat keputusan kredit prosedur pengambilan keputusan baik secara langsung oleh unit bisnis, atau melalui mekanisme four-eye principle, proses underwriting, sistem penilaian agunan, dan proses monitoring kredit yang sudah ada dalam portofolio.
  • Garda tengah (middle end) bertugas melakukan manajemen portofolio kredit khususnya konsentrasi kredit, melakukan update kebijakan kredit dan prosedur, update metode analisa kredit, menyediakan sistim rating dan scoring, melakukan fungsi operasional kredit dan administrasi kredit.
  • Garda belakang (back end) fokus pada penanganan kredit bermasalah, menentukan langkah alternatif yang meminimalkan kerugian bank, dan melakukan penagihan (collection).

Pengelolaan risiko pasar antara lain pemisahan fungsi tugas antara front office, middle office, dan back office, agar tidak terjadi benturan kepentingan. Sebagai contoh, middle office menyiapkan metode penentuan nilai pasar, back office melakukan penentuan sesuai dengan metode yang sudah disiapkan, dan front office tidak terlibat langsung dengan penentuan nilai pasar tersebut.

Pengelolaan risiko operasional dilakukan untuk menekan kerugian operational dengan menggunakan alat standar seperti RCSA (Risk and Control Self Assessment), LED (Loss Event Database) dan KRI (Key Risk Indicators)

  1. Menyiapkan Modal untuk Mengcover Risiko

Walaupun bank sudah berupaya mengelola risiko kredit, resiko pasar dan risiko operasional, bank tidak dapat menghindari sejumlah debitur menjadi bermasalah atau adanya fraud diluar perkiraan. Untuk menutup risiko residual setelah upaya mitigasi dilakukan, Bank harus menyiapkan modal untuk menyerap kerugian akibat risiko residual bank dari aktivitas kredit, risiko pasar maupun risiko operational.

Pertanyaan berikutnya adalah berapa modal yang dibutuhkan oleh Bank untuk menjalankan bisnis? Besarnya kebutuhan minimal yang harus disediakan bank serta metodologi yang digunakan oleh Bank Indonesia yang disebut dengan Regulatory capital, dan sementara perhitungan internal bank disebut dengan Economic Capital.

Untuk keperluan perhitungan kecukupan modal, regulator sudah mengeluarkan peraturan perhitungan melalui Basel I tahun 1988, ditambahkan pasal mengenai perhitungan modal untuk menghitung resiko pasar tahun 1996. Pada tahun 2004, Basel menerbitkan Basel II dengan menambahkan kebutuhan modal untuk menutup risiko operasional. Di Indonesia, Modal untuk risiko pasar baru dikeluarkan tahun 2003, dan perhitungan modal sesuai ketentuan Basel II akan dilaksanakan mulai tahun 2010.

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,


About the Author



Comments are closed.

Back to Top ↑